Oleh: balemagazine | 21 Maret 2009

Bale Goes to Blitar

Sekitar awal Maret lalu, tim Archiepress majalah Bale bersama tim Arsefo mengadakan “survey trip” ke Blitar, dimana tujuan utama adalah Musem Persada Bung Karno untuk kepentingan bahan majalah Bale edisi kedua. Kami juga berkesempatan untuk mampir ke kompleks candi yang cukup terkenal di Blitar, yaitu kompleks Candi Penataran.

Tim Arsefo atau “Arsitektur Senang Foto” yang juga berkesempatan ikut bersama kami tidak menyia-nyiakan waktunya untuk sebanyak mungkin mengabadikan setiap gambar dan setiap momen ke dalam jepretan.

Perjalanan ini membuat kami melihat bahwa di dalam mendesain memang harus dipertimbangkan nilai-nilai lokal atau pun potensi yang dimiliki wilayah setempat. Kompleks makam Bung Karno ini didesain dengan memperhatikan sekitanya seperti Candi Penataran yang lokasinya kurang lebih 10 km dari Kompleks ini. Bangunan ini juga tidak terlalu berbeda atau mencolok dari lingkungan setempat. Seimbang.Itulah yang kami rasakan.

Acara yang berlangsung dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore ini merupakan pengalaman yang berharga bagi kami. Bagaimana kita melihat makna arsitektur rancangan Baskoro Tejo ini dalam mengabadikan salah seorang tokoh proklamator yang membawa Indonesia menuju kemerdekaan :)

salam,

Tim blog Bale

p.s. Liputan lebih lengkap tentang bagaimana ulasan tentang hasil survey di Blitar dilengkapi dengan foto-foto lengkap dapat dilihat dan didapatkan dari Majalah Bale edisi kedua ^_^

jalan-sekitar-persada-bung-karnoby-yaminjalan di sekitar Persada Bung Karno by Yamin

persada-bung-karnoby-deithaPersada Bung Karno, photo by Deitha

kompleks-persada-bung-karnoby-deithaKompleks Persada Bung Karno, photo by Deitha

patung-bung-karnoby-yaminPatung Bung Karno, photo by Yamin

makam-bung-karnoby-yaminMakam Bung Karno, photo by Yamin

kompleks-candi-penataranby-yaminKompleks Candi Penataran, photo by Yamin

tim-archiepress-di-persada-bung-karno-by-archietim-archiepress-di-candi-blitarby-yaminArchiePress dan Arsefo di Blitar, photo by Yamin

Oleh: balemagazine | 15 Desember 2008

profil Arsitek : Shigeru Ban

Shigeru Ban adalah associate profesor di Keio University dan salah satu arsitek kondang dari Jepang. Salah satu spesifikasinya adalah penggunaan “slongsongan kertas” (paper tube) untuk banyak disainnya, mulai dari rumah kurban gempa, gereja, jembatan, museum berjalan (Nomadic Museum), sampai ruang pamer di tingkat Expo. Pertamanya, memang bertanya-tanya tentang kekuatan dari segi struktur penggunaan slongsongan kertas. Namun dengan makin beragamnya karya Shigeru Ban dengan bahan ini, maka orang pun makin tahu akan kekuatan bahan yang diklaim ramah lingkungan ini.

Ban yang sosoknya sering disamakan dengankarakter game Nintendo, Mario, karena kumisnya yang tebal itu, menambahkan bahwa ikatan emosi pengguna terhadap bangunan yang digunakannya menjadi titik penting dari rangkaian perjalanan sebuah bangunan (lingkungan binaan). “For Ban, green or sustainable architecture is therefore about more than saving energy or using recycled materials. It`s about people`s emotional connection to the buildings they occupy, and about making buildings that may have different identities at different times. Some buildings, he says, should be built as disposable. They can still be green so long as they don`t require more energy to take down than they did to put up”. Perjalanan karirnya sebagai arsitek yang mau belajar banyak dari para arsitek kondang dunia sebelumnya dan mampu menyarikannya dengan baik, dari permainan geometrinya John Hejduk sampai kearifan material lokalnya Aalvar Alto, membuat Pak Ban kaya dengan pengalaman “structure engineering” dalam usahanya mencari sebuah pendekatan ikon “sustainability”.

Ide dan inovasi penggunaan bahan bangunan seperti yang dijalani oleh Shigeru Ban memang sangat diperlukan pada periode kini di mana aspek ramah lingkungan atau keberlanjutan menjadi bagian integral dari syarat sebuah bahan bangunan. Jepang yang mempunyai Asosiasi Bahan Bangunan atau Nihon Kenchiku Zairyou Kyoukai secara rutin menerbitkan kumpulan bahan bangunan baru dengan standar2 yang ketat. Untuk implementasi material ramah lingkungan ini sendiri sampai saat ini beberapa pendekatan di sektor pembangunan permukiman perkotaan terus dikembangkan di Jepang. Beberapa di antaranya adalah “saving material” yang dimaksudkan membawa masyarakat ke dalam “zero-emission society” melalui “cyclic material flow” dan “long life buildings”. Kebijakan ini dilakukan melalui prosedur atau izin pembangunan bangunan baru secara ketat, termasuk dengan menyebutkan bahan bangunan yang akan digunakan. Pendekatan lainnya adalah “energy saving” melalui (musim panas dan musim dingin), melalui rekomendasi perbaikan bahan dinding dan jendela bangunan2 atau pun bahan2 lain di luar bangunan (jalan, infrstruktur lain) yang telah disurvei.

Taken and Modified from http://saniroy.wordpress.com/2007/12/07/shigeru-ban-filosofi-bahan/

Oleh: balemagazine | 8 Desember 2008

Idul Adha 1429…

Hari raya kurban selalu kita rayakan setiap tahunnya. Ritual wajib yang selalu kita lakukan tiap tahun pula. Dengan inti khotbah yang sama pula tiap tahunnya…

Namun, jangan kita artikan semua ritual hari raya tersebut dengan kebosanan. Karena justru kita seharusnya semakin memperkuat iman dan semakin ikhlas, karena itulah puncak yang harus dicapai dalam hari raya ini…

kami dari tim Majalah Arsitektur Brawijaya, BALE, mengucapkan,

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1429H

Oleh: balemagazine | 7 Desember 2008

Pesan dari kami…

Sudah lama kami tidak mengisi dan memperbaharui blog ini, tentu saja hal ini bukan tanpa alasan karena banyak pertimbangan dari kami tentang bagaimana kelanjutan blog ini…

Kami tentu saja ingin memberikan yang terbaik bagi pembaca, tidak hanya yang membaca blog yang mewakilkan majalah Bale ini, maupun bagi pembaca yang telah atau akan membaca Majalah Arsitektur Bale.

Karena itu, kami akan mulai memperhatikan tiap aspek untuk kemajuan Majalah Bale baik itu lewat dunia maya melalui Blog ini. Saran dan kritik sangat diperlukan untuk kami.

sekian, terima kasih :)

tim ArchiePress

Oleh: balemagazine | 7 Desember 2008

Sedikit Cuplikan Seminar Nasional Arsitektur 2008

Sekitar awal bulan November yang lalu Majalah Bale menyelenggarakan event yang cukup besar, yaitu seminar nasional arsitektur dengan topik “Good Business With Green Design” yang bertempat di hall Hotel Santika Graha Malang…

Seminar yang didukung oleh berbagai pihak dimana salah satunya Arsitektur Brawijaya sendiri serta IAI ini, bukan tanpa alasan mengambil topik tentang Green Design. Green Design dalam arsitektur adalah merupakan suatu langkah nyata bagi para arsitek untuk ikut mendukung pelestarian lingkungan dan bumi sebagai lingkup besarnya.

Tidak tanggung-tanggung dalam seminar ini, Bale mengundang para pembicara yang sudah merupakan arsitek-arsitek ahli dalam bidang Green Design itu sendiri, yaitu Budi Pradono; Ir. Jimmy Priatman, M.Arch; Ir. Adi Utomo Hatmoko, M. Arch; serta Ir. Eko Prawoto. Beliau-beliau dalam seminar ini telah membagikan serta mengajarkan pengalaman berharga mereka tentang aplikasi Green Design kepada para peserta seminar.

Acara yang berlangsung dari pukul 8 pagi sampai pukul 4 sore ini ternyata disambut dengan baik oleh para mahasiswa arsitektur serta oleh para praktisi. Semoga ini dapat menjadi langkah nyata dan baik dalam dunia arsitektur, karena arsitektur bukan hanya mendesain tetapi memahami dan mempelajari manusia serta alam untuk menciptakan sesuatu :)

p.s. Liputan lebih lengkap tentang bagaimana event seminar ini berlangsung dilengkapi dengan foto-foto lengkap serta bonus video saat berlangsungnya event seminar ini dapat dilihat dan didapatkan dari Majalah Bale edisi kedua ^_^

suasana awal...suasana koridor di luar hall waktu persiapan

Pak Jimmy dan sponsorsalah satu pembicara, Pak Jimmy, saat melihat sponsor

hall yang mulai ramai pesertasuasana hall yang mulai ramai peserta seminar

peserta seminar yang foto bareng dengan Pak Eko Prawotopeserta seminar yang foto bareng dengan Pak Eko Prawoto

suasana seminar, bersama pak Adi Utomo dan pak Budi Pradonosuasana seminar, bersama Pak Adi Utomo dan Pak Budi Pradono

panitia event bale bersama pembicarapanitia event Bale bersama pembicara dan kajur Ars UB

tim bale berkesempatan wawancara dengan para pembicara, salah satunya Budi Pradono, untuk Bale edisi kedua ^_^tim bale berkesempatan wawancara dengan para pembicara, salah satunya Budi Pradono, untuk Bale edisi kedua ^.^

Ketika sekarang orang ramai membicarakan perubahan iklim dan penghematan energi, maka sebenarnya dunia arsitektur Indonesia sudah lama memikirkan hal tersebut. Pada tahun 1980 an para arsitek Indonesia bergelut dengan topik “Arsitektur Tropis” yang bertujuan memanfaatkan sebesar mungkin keuntungan geografis Indonesia di daerah tropis guna mengurangi pemakaian energi di dalam bangunan. Sekarang yang dibicarakan menjadi “Green Architecture” ataupun “Sustainable Architecture” yang sebenarnya merupakan penyempurnaan dari prinsip-prinsip dasar yang terbahas dalam “Arsitektur Tropis” dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dalam pergerakan arsitektur global.

Sebagai negara di kepulauan Nusantara yang senantiasa berlimpah matahari maka penghematan energi listrik bisa diperoleh dengan pemanfaatan sinar matahari yang senantiasa menghiasi kathulistiwa.


Sebagai penghuni daerah yang terletak di daerah pegunungan berapi “the Ring of Fire”, nenek moyang bangsa Indonesia sudah dengan arif menyiasati konstruksinya yang memiliki sambungan-sambungan tanpa paku yang kuat tapi lentur terhadap getaran.

Banyak dampak yang jelas terlihat pada kota-kota besar terutama pencemaran udara perkotaan dalam kaitannya dengan transportasi. Pemanasan global termasuk di dalamnya akibat polusi kendaraan akan menyebabkan berkurangnya kenyamanan hidup lingkungan perkotaan.


Satu hal menarik yang perlu dicatat adalah bahwa salah satu efek dari kenaikan permukaan air laut bagi pesisir Jawa adalah posisi Sunda Kelapa yang akan lebih potensial sebagai pelabuhan laut dalam disbanding Tanjung Priok. Melihat kondisi Sunda Kelapa yang daerah sekitarnya saat ini (November 30, 2007) terendam sedalam 60 cm mengingatkan pada hal betapa banyak studi yang berkaitan dengan perubahan iklim dan pemanasan global yang secara langsung akan berdampak pada kemungkinan perubahan perencanaan kota di kemudian hari. Hal ini merupakan satu hal penting yang perlu diantisipasi oleh para perencana kota. Kesadaran akan pentingnya pendekatan yang terintegrasi antar beberapa bidang studi sangat diperlukan menghasilkan inovasi desain yang mendukung terciptanya Green Building maupun Sustainable Architecture.


Bidang studi arsitektur memang terkait dengan berbagai aspek dalam perencanaan dan pengembangan lingkungan binaan manusia. Sudah waktunya mahasiswa arsitektur serta orang-orang yang bergelut dengan dunia arsitektur baik akademisi maupun praktisi untuk menyadari perannya dalam menjadi motor penggerak dalam memperbaiki kesadaran akan pentingnya gerakan-gerakan seperti gerakan untuk hemat energi dalam konteks memperbaiki kualitas hidup bersama.


Kompetensi mahasiswa arsitektur untuk dapat memahami dengan baik kebutuhan-kebutuhan lokal yang sesuai dengan masanya, serta bagaimana anak-anak teknik ini juga perlu menguasai cara berkomunikasi dan mempresentasikan ide-ide mereka dengan baik. bagaimana arsitek baru yang mereka terima bekerja biasanya sangat idealis dan melupakan unsur komersial sebuah proyek. memang masalah manajemen sumber daya manusia dan manejemen keuangan merupakan tantangan yang sangat berat bagi para arsitek yang berwirausaha, baik sebagai arsitek perencana maupun sebagai kontraktor. Tentunya ini adalah tantangan yang tidak terlalu disadari bila bekerja dalam tim di perusahaan besar, tapi bisa menjadi masalah bagi pengelola manajemen perusahaan.

disadur dari berbagai sumber internet

Oleh: balemagazine | 24 September 2008

Menjadi Arsitek itu mahal harganya….

Masuk ke jurusan arsitektur mungkin tidak seberapa kalau mau dibandingkan dengan jurusan lain, bisa diambil contoh jurusan Pendidikan Kedokteran Umum, tapi kalau mau bicara soal proses sebenarnya mahalnya tidak kalah dari calon2 dokter ^.^

Arsitek membutuhkan perlengkapan peralatan yang lengkap dan harganya bukan main-main mahal, dan apakah saja alat-alat itu?
1. Drafting Machine
Nih alat biasanya dibutuhkan pada saat kuliah. Biasanya disebut mesin gambar. Harganya? Berkisar antara 10 juta sampai 20 juta. Memang sih sekarang alat ini mulai ditinggalkan, karena telah terganti dengan komputer. Tapi alat ini tetap dibutuhkan jika kita tidak menyukai gambar dengan komputer yang terkesan mati dan tanpa ekspresi. Tapi sekarang ini yang musim justru meja “kaca” dimana setelah mengerjakan d komputer disalin lewat meja kaca, yah, mungkin dengan meja kaca harganya bisa lebih murah ^.^

2. Komputer
Nah….alat ini lah yang mulai menggantikan drafting machine. Dengan komputer, kita bisa menggambar lebih cepat, terutama jika gambarnya adalah gambar yang berulang-ulang. Dengan perintah copy, semua bisa terlaksana dengan mudah :P Komputer khusus untuk arsitek tidak bisa seperti komputer yang biasanya ada di rental komputer ^^; Karena untuk menggambar dibutuhkan kemampuan yang besar dari komputer. Ya…komputer yang biasanya cukup memuaskan arsitek adalah komputer dengan spek untuk para gamers. Makanya…arsitek biasanya juga seorang gamers. Komputer untuk arsitek disarankan menggunakan graphic card yang terpisah dari memory utama komputer, supaya kinerja komputer makin baik. Harganya? Hmm…..berkisar antara 10 jutaan juga sih untuk PC. Kalo untuk Mac, bisa lebih mahal lagi. Sekitar 20 jutaan lah. Tapi kalo masih mahasiswa, komputer jangkrik biasa yang harganyanya 5-7 jutaan sudah cukup memadai :)

3. Software CAD dan Graphic
Nah… ini yang tak kalah mahal ^^; Software CAD dan Graphic mutlak dimiliki oleh para arsitek yang menggunakan komputer sebagai alat bantu desainnya. Software CAD ada banyak macamnya. Harganya…berkisar antara $300 sampai $4000!!!!!! Oooo My GOD!!!! Semahal itu? Yah…begitulah software original ^^; Beberapa software yang sering digunakan oleh arsitek antara lain adalah AutoCAD, Corel Draw, Adobe Photoshop, 3D Max, 3D Viz, ArchiCAD,Sketchup Pro, dan masih banyak software lain…. dan tentu saja….. Software office seperti Microsoft Office atau pun Apple Office ^^; Itupun kalo mahasiswa arsitektur punya niat untuk beli software dengan lisensi asli, kalau yang bajakan sih, yah gratis lah tentu saja

4. Printer dan Plotter
Untuk mencetak gambar, tentu diperlukan printer. Printer yang biasa digunakan adalah printer yang bisa mencetak dengan kertas A3. Printer seperti ini banyak didapatkan di Indonesia. Mereknya pun bermacam-macam seperti Canon, Epson, dan HP. Harganya berkisar antara 2-4 juta an. Untuk gambar yang lebih besar, biasanya digunakan plotter. Plotter bisa mencetak sampai besar kertas A0 dan bisa mencetak diatas kertas kalkir. Harganya? berkisar antara $2.000 sampai $20.000!!!!! T_T Mahal ya ^^;

5. Scanner
Nah…ini juga alat yang penting buat arsitek. Scanner yang biasa dijual dipasaran adalah scanner-scanner kecil yang tidak bisa digunakan untuk men-scan gambar-gambar ukuran besar. Harga scanner yang bisa men-scan sampai kertas A0 adalah sekitar $18.000 sampai $32.000. Tapi tenang aja, alat ini jarang kok digunakan :)

6. Alat-alat lain
Alat-alat lain ini misalnya adalah Projector dan Notebook. Urgensinya sih paling cuma buat presentasi. Tapi alat-alat ini biasanya disediakan oleh klien pada saat presentasi. Kalo pun tidak ada, kita masih bisa menyewa nya. Tapi disarankan agar arsitek pun memiliki nya. Harga notebook nya berkisar antara 10 juta sampai 20 jutaan. Harga sebuah Projector pun berkisar segitu :)

Bisa dilihat kan, bagaimana menjadi arsitek yang profesional itu mahal sekali harganya, jadi kalau mau menjadi seorang arsitek harus punya tabungan yang cukup ^.^

banyak disadur dari berbagai sumber internet

Oleh: balemagazine | 24 September 2008

Tentang bale . . .

ArchiPress Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya kini kembali dengan beberapa perubahan setelah sekian lama vakum. Majalah Arsitektur Brawijaya kembali muncul ke permukaan dengan nama dan wajah baru. Jika dulu Vidya menjadi Imbarinupa, kini Imbarinupa menjelma menjadi Bale. Meski sempat beberapa kali berganti nama, dasar semangat kami untuk tetap menyajikan informasi kepada teman-teman di dunia Arsitektur tidak pernah berubah.

Seperti arti Bale, sebagai rumah; tempat berkumpul, tempat berbincang dengan santai, kami berharap Bale menjadi wadah kreatifitas yang tidak terbatas. Dari perbincangan santai di Bale yang menghasilkan pemikiran dan kreatifitas baru kami berharap Bale juga mampu menginspirasi teman-teman untuk terus berkarya.

Saran dan kritik akan diterima kapan dan dimana saja untuk terus memperbaiki agar Bale menjadi majalah arsitektur yang lebih baik lagi ke depannya.

^_^ v

Salam,

Redaksi Bale
ArchiPress

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.